GEOLOGI SELAT LEMBEH YANG UNIK DAN MEMPESONA

 

Oleh Tim Selat Lembeh:

Delyuzar Illahude*, Purnomo Raharjo*, Abdul Wahib*, Mirayosi*, Ai Yuningsih*, Moh. Andri Syahril*, Totok Suprijo**, dan Subaktian Lubis**

Sari

Selat Lembeh merupakan pemisah antara Pulau Lembeh dan daratan utama Pulau Sulawesi. Bentuk Pulau Lembeh yang hampir menyerupai setengah lingkaran diduga sebagai sisa dari tepi kaldera gunungapi purba setelah letusan dahsyat pada kala Tersier. Selanjutnya, bagian tengah kaldera purba ini diterobos oleh gunungapi-gunungapi muda seperti gunungapi Dua Sudara dan gunungapi Tangkoko pada kala Plio-Pleistosen yang muncul sebagai busur volkanik pada sistem tektonik subduksi di Laut Sulawesi. 

 

Kondisi geologi Selat Lembeh yang unik serta bentuk geometrik selat yang khas menyerupai mulut corong, mengalirkan arus laut bolak-balik yang kuat dari Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Karakter arus bolak-balik ini menyebabkan efek Eutrofikasi yang membawa nutrisi dari substrat batuan volkanik yang kaya mineral sebagai bahan makanan yang berlimpah bagi berbagai makhluk yang hidup di dasar selat. Oleh sebab itu, sangat logis jika Selat Lembeh memiliki mahluk-mahluk dasar laut yang bentuk fisiknya tidak lazim, langka, unik dan mempesona serta beberapa spesies eksotis yang tidak terdapat di perairan lainnya.

 

 ___________

*) Puslitbang Geologi Kelautan, Balitbang ESDM, Kementerian ESDM

**) Prodi Oseanografi, Institut Teknologi Bandung

 

  •  

Selat Lembeh secara administratif merupakan bagian dari Kota Bitung, Propinsi Sulawesi Utara, dan mulai dikenal dunia selam karena merupakan lokasi pilihan bagi para penyelaman “mucky diving” yang terfavorit di Indonesia. Selat yang membujur hamper utara-selatan ini memisahkan dua daratan yaitu daratan utama Pulau Sulawesi dan Pulau Lembeh yang membujur hampir utara-selatan. Predikat yang diberikan kepada Selat Lembeh sebagai salah satu lokasi penyelaman terbaik untuk kegiatan fotografi bawah air karena memiliki keunikannya yang mempesona serta keragaman biota laut mini yang spesifik.  Oleh sebab itulah, tempat penyelaman ini dijuluki “Surga untuk fotografi makro bawah laut”, artinya banyak sekali makhluk mini atau pigmi bawah laut yang unik, langka, dan menakjubkan yang tersembunyi di balik karang dan sampah-sampah bawah laut. Karena keunikan inilah, para fotografer bawah laut professional bahkan menyebutnya sebagai “Kiblat Fotografi Makro Bawah Laut”.

 

Secara umum, dasar laut Selat Lembeh didominasi oleh endapan pasir vulkanis berwarna abu-abu kehitaman dan hanya sebagian kecil yang berpasir putih. Sebagian besar dasar laut di selat ini merupakan bidang yang hampir mendatar terutama di sekitar pantai. Dasar laut di bagian tengah selat umumnya cenderung berupa lereng landai yang luas. Pada lereng dasar laut ini jarang ditemukan adanya tumbuhan terumbu karang masif. Karena dasarnya yang berpasir dan umumnya arus laut yang relatif kuat menyebabkan kecerahan air laut (visibility) di perairan ini hanya berkisar antara 5 hingga 10 meter, namun pada saat air tenang (slack water) atau tidak ada arus laut, maka visibilitasnya dapat mencapai lebih dari 25 meter. Jenis pasang surut laut di selat ini termasuk semidiurnal, artinya terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam satu hari, sehingga kondisi air tenang yaitu saat jeda dimana arus akan berbalik arah juga terjadi dua kali sehari. Saat tenang inilah yang lazim dimanfaatkan oleh para penyelam ilmiah dan penyelam fotografi untuk melakukan kegiatan pengamatan bawah air, walaupun saat arus tenang ini hanya berdurasi kurang dari satu jam. Hasil penyelaman ilmiah yang telah dilakukan pada bulan April 2016, menghasilkan beberapa temuan atau ekspose jejak geologi dasar laut yang unik, terkait dengan proses oseanografi serta berbagai biota dasar laut yang unik dan mempesona.

 

Verbeek (1908) menyebutkan bahwa Pulau Lembeh dengan bentuknya yang hampir setengah lingkaran diduga sebagai sisa dari tebing kaldera purba setelah letusan besar pada kala Tersier (sekitar 18 juta tahun yang lalu). Bagian tengah kaldera purba ini selanjutnya diterobos oleh gunungapi-gunungapi muda seperti gunungapi Dua Sudara dan gunungapi Tangkoko pada kala Plio-Pleistosen sebagai bagian dari busur volkanik pada sistem tektonik subduksi di laut Sulawesi. Selain itu, masyarakat setempat menyebutkan bahwa bahwa Lembeh memiliki arti “yang tersisa atau yang tertinggal”, sehingga mungkin terkait dengan sejarah pembentukan pulau tersebut yaitu bagian tepi kaldera gunungapi yang tersisa.

 

Pengamatan geologi di Pulau Lembeh dilakukan dengan cara menelusuri kawasan pantai yang berdinding terjal, sehingga diperoleh jejak-jejak proses geologi yang membentuknya. Pantai-pantai bertebing curam inilah yang memberikan indikasi dan dugaan proses kejadian geologinya, khususnya pada batuan volkanoklastik purba yang berumur Tersier (Miosen Awal sampai Miosen Akhir atau sekitar 23,7 – 5,3 juta tahun yang lalu). Batuan volkanik di Pulau Lembeh ini ini sangat berbeda sekali karakteristiknya dibandingkan dengan batuan vokanik yang tersingkap di dinding pantai daratan Bitung (Sulawesi Utara) yang didominasi batuan berumur Kuarter (1,6 juta – 10 ribu tahun yang lalu). Perbedaan umur yang cukup mencolok inilah yang menyebabkan kondisi geologi Lembeh yang unik dan menarik dan eksotis.  

 

   

  • GEOLOGI UMUM

Keunikan geologi di kawasan Selat Lembeh adalah adanya perbedaan umur batuan yang sangat mencolok. Batuan yang ditemukan di Pulau Lembeh umumnya terdiri dari batuan volkanik berumur Tersier, sedangkan batuan di wilayah Bitung (daratan Pulau Sulawesi) merupakan batuan volkanik muda Kuarter (Kusumadinata, 1979). Secara umum wilayah Bitung dan sekitarnya disusun oleh batuan volkanik yang berumur Kuarter yang terdiri atas lava, bom, lapili dan abu yang sebagian kecil ditutupi oleh endapan. Endapan Qs ini terdiri atas pasir lanau, konglomerat dan lempung napalan (Effendi dan Bawono, 1997). Berdasarkan hasil pengamatan geologi permukaan yang dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan, Kementerian ESDM bulan April 2016, daerah Bitung secara umum disusun oleh batuan volkanik dan volkaniklastik, sebagian batuan ini ditutupi oleh endapan permukaan yang terdiri dari satuan tufa, tufa-breksi, satuan lava, satuan tefra, serta satuan aluvium sungai dan pantai.

 

  • Satuan Batuan di Daratan Sulawesi Utara

Satuan tufa-breksi berumur Kuater merupakan batuan terluas penyebarannya meliputi sebagian besar wilayah Manado (Gambar 1) dan sebarannya ditemukan pula sampai ke wilayah Bitung. Sebaran batuan ini yang ditemukan bagian barat hingga kearah utara umumnya membentuk morfologi pebukitan, dan bagian tengah membentuk morfologi kerucut gunungapi Dua Sudara dan gunungapi Tangkoko-Batuangus, sedangkan bagian selatan hingga ke arah timur umumnya membentuk morfologi bergelombang, pungungan pegunungan serta pedataran.

Gambar 1. Singkapan tufa breksi pada dinding jalan lingkar luar Manado dengan ketebalan lebih dari 6 meter, memperlihatkan struktur masif namun dibeberapa tempat memperlihatkan struktur berlapis tipis dari fragmen volkanikklastik halus yang berukuran halus sampai kasar (Foto: Purnomo).

 

Fragmen kasar yang ditemukan di lokasi ini berukuran lapilli sampai bongkah (diameter lebih dari 20 cm).  Warna batuan tufa dalam keadaan segar adalah abu-abu terang hingga gelap, sedangkan yang telah mengalami oksidasi kuat berwarna kecoklatan. Secara makroskopik, kandungan mineral andesit yang terdeteksi secara umum terdiri dari felspar, magnetit, biotit, hornblenda dan piroksen. Selain itu, ditemukan pula Fragmen batuapung menunjukkan struktur bersusun terbalik, sedangkan batuan andesit bersusun normal akibat mekanisme jatuhan material piroklastik eksplosif.

 

Komposisi mineral yang terdapat pada batuan volkanik dan volkanilistik yang menyusun satuan tufa-breksi berbeda dengan komposisi mineral pada satuan lava breksi. Dengan demikian, satuan tufa-breksi lebih didominasi oleh batuan volkanikklastik, sedangkan satuan lava lebih didominasi batuan beku volkaniknya. Diduga bahwa dominasi batuan volkanik efusif tersebut berkaitan erat dengan aktivitas gunungapi Tangkoko dan Batuangus yang umumnya melelehkan lava selama perioda keaktifannya. Batuan-batuan penyusun satuan batuan ini umumnya tersingkap secara alami akibat proses runtuhan di sepanjang tebing pantai terjal Selat Lembeh bagian barat.

 

Batuan lava andesit basaltis yang ditemukan merupakan batuan beku ekstrusif merupakan pencerminan jenis magma batuan induknya. Singkapan satuan tufa breksi ini hanya tersingkap di beberapa tempat, sedangkan singkapan lava banyak ditemukan di sepanjang pantai utara di sekitar kaki lereng gunung Tangkoko-Batuangus. Satuan lava andesit yang ditemukan di sekitar pesisir terdiri atas lava andesit dan breksi autoklasik. Pengelompokan batuan-batuan ini kedalam satu satuan didasarkan pada kesatuan ciri litologi yang menunjukkan satuan sumber dan proses pembentukan berupa kesamaan komposisi mineral dan kelanjutan tatanan litologinya.

 

Satuan Tefra yang ditemukan berupa endapan jatuhan piroklastik yang belum terkonsolidasi dan membentuk batuan yang belum kompak, sehingga masih bersifat lepas dan mudah diurai (Dott, 1964).

 

Satuan aluvium sungai dan pantai merupakan endapan aliran epiklasik yang sebagian telah terkonsolidasi lemah dan sebagian lagi masih mudah terurai lepas. Endapan ini terdiri dari material epiklastik berukuran bongkahan hingga pasir dari berbagai batuan induknya seperti andesit, breksi dan tufa hasil erosi dan transportasi aliran air sungai yang diendapkan disekitar tepian alur sungai. Bentuk material pada alluvium ini umumnya telah membudar akibat abrasi dan transportasi dan terendapkan dalam pilahan yang relatif baik. Sistem pengendapan fluviatil ini menyebabkan material kasar relatif terendapkan lebih dahulu dibandingkan dengan material halus, baik secara lateral maupun vertikal.

 

Pola pengendapan yang dijumpai secara lateral dicirikan oleh endapan bongkahan dibagian hulu sungai dan pasir dibagian hilir dan pesisir, sedangkan pola pengendapan vertikal dicirikan oleh struktur bersusun normal (fining upwards). Satuan aluvium pantai merupakan endapan arus dan gelombang pantai pada zona pasang surut. Endapan alluvium ini umumnya berkomposisi epiklastik darat yang berukuran pasir hingga lempung, kadang-kadang lumpur yang masih bersifat urai atau lepas-lepas.

 

 

  • Satuan Batuan di Pulau Lembeh

Satuan batuan gunung api purba Tersier terdiri dari breksi, lava dan tufa. Aliran lava pada umumnya berkomposisi andesit sampai basal singkapannya banyak ditemukan di tebing-tebing tanjung yang terabrasi. Satuan Lava dasit juga dapat dibedakan dari lava andesit berdasarkan ukuran fragmen yang lebih kasar. Koperberg (1928) dalam Effendi (1974) menyebutkan sebagai breksi berbutir sangat kasar, berkomposisi andesit, sebagian bersifat konglomerat, mengandung sisipan tufa, batupasir, dan batulempung. Fosil foraminifera kecil yang ditemukan dalam sisipan lempung berlapis yaitu: Globorotalia periphereacuta, Globorotalia mayeri dan Globorotalia praemenardii menunjukkan umur pengendapan pada Miosen Tengah atau sekitar 18 juta tahun yang lalu. 

 

Batuan sedimen tua Tersier yang berkarakter marin terdiri atas batupasir kasar dan greywacke, sedangkan Batugamping napalan dan batugamping hanya ditemukan di daratan pulau Sulawesi, tetapi tidak ditemukan di Pulau Lembeh. Batupasirnya tersusun oleh butiran andesit dan setempat bersifat gampingan. Koperberg (1928) melaporkan adanya foraminifera yaitu Milliolina dan Textularia di dalam satuan ini sebagai fosil penciri Miosen Awal sampai Miosen Akhir (23,7 -5,3 juta tahun yang lalu). Di Papusungan, Lembeh Selatan batuan lempung ini telah termineralisasikan dan mengandung mineral pirit.  Secara umum, di Pulau Lembeh banyak tersingkap satuan batuan yang tersusun dari aliran lava dan breksi yang berkomposisi andesit.

 

Beberapa singkapan batuan Tersier yang ditemukan di daratan Pulau Lembeh serta keunikan batuannya diperlihatkan pada Gambar 2 s/d Gambar 6.

 

Gambar 2. Satuan batuan batuan gunungapi purba yang terdiri dari tubuh lava berkomposisi andesit sampai basal dan breksi volkanik dengan fragmen andesit berumur Tersier yang tersingkap akibat abrasi di Tanjung Galise, Moto, Kecamatan Lembeh Utara (Foto: S. Lubis).

 

Gambar 3. Batuan lava andesitik yang memperlihatkan pola struktur berlapis. Hal ini diduga terjadi sebagai akibat pemilahan kristal (segregasi) yang berbeda pada saat pembekuan, sehingga membentuk aliran lava yang mengalami “Sheeting joint” yaitu struktur batuan beku yang terlihat sebagai lapisan (Foto: S. Lubis)

 

Gambar 4. Sisipan batu lempung berlaminasi dan mengalami pelapukan kuat yang tersingkap di tebing Tanjung Pintukota, keberadaannya masih sulit dianalisa karena tidak ditemukannya bidang kontak dengan satuan tufa di atasnya. Diduga terbentuknya batu lempung ini adalah lingkungan danau purba yang mengalami pengangkatan lemah.  

 

Gambar 5. Batu tufa yang terletak pada “tidal elevation” atau yang terendam pada saat air laut pasang merupakan tempat hidup koloni semacam siput dan cacing laut (sea worm) sehingga banyak dijumpai lubang-lubang cacing (burrow). Kehadiran makhluk air dalam batuan ini telah meninggalkan jejak berupa lubang-lubang atau liang moluska atau arthropoda dan cacing laut. Proses Burrowing atau ciri-ciri bioturbasi sangat penting digunakan dalam menentukan indikator lingkungan terbentuknya serta proses biologinya.

 

Gambar 6. Runtuhan batuan breksi volkanik di dasar selat yang mulai ditumbuhi biota laut seperti koral dan soft koral, mencirikan bahwa lingkungan perairan cukup sehat untuk pertumbuhan berbagai jenis koral yang resistan terhadap arus laut (Foto: Mirayosi).

 

  • KEUNIKAN FITUR GEOLOGI SELAT LEMBEH

 

  1. Keunikan Tubir Pantai

Berdasarkan tinjauan geomorfologi di kedua sisi Selat Lembeh yaitu daratan Sulawesi Utara di bagian barat, dan Pulau Lembeh di bagian timur, maka beberapa ahli geologi menduga bahwa Selat Lembeh ini merupakan bagian bekas kaldera dari letusan gunungapi purba berumur Tersier (Verbeek, 1908; Koperberg, 1928 dalam Kusumadinata (1979). Bagian barat kaldera ini selanjutnya terangkat sebagai busur volkanik pada Plio-Pleistosen dan membentuk gunungapi Dua Sudara dan gunungapi Tangkoko.

 

Keunikan geologi pada Selat Lembah ini adalah sebagai batas litologi dari dua satuan batuan volkanik yang sangat berbeda umurnya. Dinding bagian barat selat ditempati oleh batuan volkanik muda berumur Kuarter, sedangkan dinding bagian timur selat ditempati oleh batuan vokkanik tua berumur Tersier. Oleh sebab itulah, karakter batuan pada kedua dinding selat ini sangat berbeda baik warna batuan, kemiringan lapisan ataupun tingkat pelapukan batuannya.

 

Selain itu, dasar laut selat Lembeh ini juga memberikan karakter fitur geologi yang berlainan pula. Dasar laut di bagian barat selat ini didominasi oleh sedimen pasiran yang berwarna gelap, sedangkan dasar laut di bagian timur pada umumnya ditempati oleh sedimen pasiran berwarna gelap yang diduga berasal dari endapan volkanik lapilli, dan endapan berwarna putih yang berasal dari rombakan batuan tufa dan breksi yang berkomposisi andesit.  Umumnya pola perlapisan satuan batuan tufa lapilli ini mempelihatkan kemiringan ke barah timur, kecuali yang ditemukan di Tanjung Pintukota berupa endapan laharik yang masih belum terkompaksi (tefra) memiliki kemiringan yang mengarah ke barat. Tanjung ini mengalami abrasi kuat sehingga hanya menyisakan punggungan sempit yang diduga akan runtuh akibat abrasi kuat dari kedua sisinya.

 

Beberapa keunikan fitur geologi yang ditemukan di sepanjang pantai Pulau Lembeh bagian barat diperlihatkan pada Gambar 7 s/d Gambar 10.                    

A

 

B

Gambar 7. Satuan endapan tefra yang tersusun dari endapan lahar dengan fraksi kasar namun belum terkonsolidasi ditemukan di Tanjung Pintukota. Satuan batuan ini terdiri dari endapan lahar yang diendapkan secara tidak selaras di atas breksi volkanik. Kemiringan endapan lahar ini memiliki kemiringan lapisan sekitar N152oE/35o.  Kondisi batuan yang tersingkap ini berbentuk tanjung sempit akibat proses abrasi kuat yang terjadi di kedua sisinya. Diperkirakan bahwa dalam jangka pendek teluk ini akan hilang akibat abrasi gelombang laut. A: tampak atas dan B: tampak samping dari arah selatan (Foto: S. Lubis).

 

Gambar 8. Batu Bolong di Pulau Sarena, pulau yang terletak ditengah-tengah Selat Lembeh ini terdiri dari tufa lapilli dicirikan oleh banyaknya fragmen kasar batu apung. Sebagian dinding pulau ini runtuh akibat kekar (joint) yang mendatar dan proses abrasi gelombang laut sehingga membentuk  fitur Sea arch yang umumnya terbentuk pasca pembentukan goa laut (Foto: S. Lubis)

 

Gambar 9. Kontak batu pasir (greywacke?) dan tufa lapilli yang ditemukan di Tanjung Rarandam memperlihatkan bukti dua proses volkanik yang berlainan. Umumnya bidang kontak yang ditemukan menunjam sekitar 10-18o (Foto: S. Lubis).

 

Gambar 10. Gawir vertikal di pantai Kenreko yang terbentuk akibat terjadinya runtuhan (rock fall) tebing pantai, sebagai konsekuensi dari adanya kekar (crack) vertical sehingga menyisakan tebing vertikal yang memperlihatkan gejala garis pantai yang semakin mundur (Foto: S. Lubis)

 

3.2. Keunikan Dasar Laut

 

Hasil pengamatan dasar laut Selat Lembeh oleh penyelam ilmiah (Gambar 10) dari Puslitbang Geologi Kelautan, Balitbang ESDM, Kementerian ESDM pada bulan April 2016 ditemukan banyaknya bongkah batu andesit berukuran 1 s/d 3 meter yang diduga berasal dari runtuhan dinding pantai Bitung dan terangkut ke tengah selat sampai sekitar 100 meter dari pantai. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi runtuhan tebing dan debris mengangkut bongkah-bongkah tersebut.  Selain itu, bongkah batuan berukuran sampai 2 meter juga ditemukan di tengah-tengah selat ini, yang sengaja ditumpuk di sekitar blok beton pengikat jangkar bouy rambu pengarah, agar blok beton sebagai jangkar buoy tersebut tidak tergeser oleh arus laut.

 

Gambar 11. Persiapan penyelaman ilmiah untuk mengindentifikasi karakter dasar selat di bagian tengah Selat Lembeh serta pengambilan conto endapan dasar selat (Foto: S. Lubis)

 

Analisa makroskopik terdahap sedimen yang diambil dari dasar selat di Selat Lembeh ini juga memperlihatkan bahwa sedimen pasiran yang menutupi dasar selat ini berkarakter endapan volkanik lapilli dicirikan oleh buruknya sortasi ukuran butir dan sifat roundness (kebundaran) butir yang bukan karakter endapan daratan atau pantai. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar endapan dasar selat bagian timur ini merupakan campuran butiran yang berasal dari endapan vokanik lapilli yang terlontar yang bercampur dengan rombakan batuan tufa dari pulau Lembeh dan sebagian lagi berasal dari endapan vokanik muda dari daratan Sulawesi yang berumur Kuarter.

 

Beberapa keunikan dasar selat di Selat Lembeh ini seperti diperlihatkan pada Gambar 12 s/d Gambar 16.

 

Gambar 12. Bongkah-bongkah batuan beku yang berdiameter 2 meter yang ditenggelamkan ke dasar laut disamping berfungsi sebagai penguat sistem mooring dari bouy rambu pengarah juga berfungsi sebagai pusat pertumbuhan berbagai koloni mahkluk bawah air lainnya (Foto: Mirayosi).

Gambar 13. Rantai pengikat blok beton yang berfungsi sebagai pengikat sistem jangkar untuk bouy rambu pengarah pada alur pelayaran di Selat Lembeh. Rantai ini dalam kondisi terkorosi dan keausan akibat gesekan dengan bongkah batuan di pada saat rantai tersebut tergeser akibat arus kuat yang berbalik arah dua kali sehari (Foto: Mirayosi).

Gambar 14. Dasar selat di Selat Lembeh yang terdiri dari endapan pasir lepas berwarna abu-abu muda yang merupakan butiran andesitik daratan Sulawesi, bercampur dengan butiran berwarna putih yang diduga berasal dari tufa lapilli dari Pulau Lembeh (Foto: Mirayosi).

 

Gambar 15. Pembentukan fitur sedimen gelombang pasir di dasar selat yang dibentuk oleh kombinasi sistem arus dan gelombang orbital sehingga membentuk pola “sand wave” sesuai dengan kekuatan arus atau gelombang pembangkitnya. Hasil pengukuran secara visual bentuk gelombang pasir dasar selat dekat pantai Kenreko, Lembeh, ini berukuran “sand wave” dimana jarak antara puncak gelombang pasir sekitar 60 centimeter. Hal ini mencirikan bahwa arus yang membentuknya memiliki kekuatan atau kecepatan arus sekitar 1 knot atau 0,5 m/detik (Foto: S. Lubis).

 

Gambar 16. Efek tombolo pada saat air laut surut yang ditemukan diatas dataran tidal elevation antara pulau-pulau Sarena memperlihatkan akumulasi endapan dengan bentuk yang memanjang. Tombolo adalah suatu tanggul pasir alami yang menghubungkan pulau-pulau atau daratan akibat aksi difraksi gelombang oleh ujung-ujung pulau tersebut sehingga mengakibatkan efek pendangkalan, yang kemudian membentuk gumuk pasir (Foto: S. Lubis).

 

< >KEUNIKAN BIOTA DASAR LAUT  

 

Penyelaman di perairan yang bersampah atau sering disebut “muck-diving” adalah menyelam di wilayah perairan yang kotor dan berpasir, biasanya dilakukan untuk tujuan makro-fotografi, memberikan pesona tersendiri. Dasar selat ini tidak memiliki terumbu karang massif, bahkan kondisi perairan ini umumnya berpasir, berlumpur dan kotor, dipenuhi sampah plastik dan kaleng-kaleng bekas. Sampah-sampah dasar laut ini ternyata menjadi habitat yang baik bagi beragam biota laut spesifik yang jarang ditemukan di perairan lain.

 

Arus yang mengalir dari Laut Sulawesi bolak-balik membawa nutrisi dari substrat yang kaya mineral sehingga merupakan bahan makanan berlimpah bagi berbagai makhluk di dasar laut. Oleh sebab itu, Selat Lembeh memiliki mahluk-mahluk dasar laut yang tidak biasa serta beberapa spesies eksotis yang tidak terdapat di tempat lain. Menurut Taslim, dkk, 2007) beberapa spesias gurita mimic, kuda laut pygmi, siput laut tak bercangkang (nudibranch), mandarinfish (Synchiropus splendens), dan frogfish berambut. Red Lionfish (Pterois volitans), Orange Painted Frogfish (Antennarius pictus), Oriental Flying Gurnard (Dactyloptena orientalis) dan Birdbeak Burrfish (Cyclichthys orbicularis). Binatang-binatang laut ini merupakan mahluk-mahluk cantik namun berbisa jika tersentuh.  

 

Bentuk geometri Selat Lembeh yang menyerupai mulut corong mengakibatkan kecepatan aliran arus pasang surut yang ekstrim, bahkan di beberapa tempat seperti di sekitar Pulau Sarena terjadi arus turbulen (memutar) dengan kecepatan yang bervariasi dan bisa mencapai 2,5 meter/detik.. Arus pasang surut yang mengalir bolak-balik dari Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik ini membawa zat hara yang kaya nutrisi. Nutrisi yang terbawa ini berasal dari substrat batuan volkanik yang kaya mineral sebagai bahan makanan yang berlimpah bagi berbagai makhluk yang hidup di dasar selat. Menurut Mulyadi (1999), selat ini kemungkinan besar telah mengalami Eutrofikasi yaitu pengayaan (enrichment) air dengan nutrien atau unsur hara berupa bahan anorganik yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Nutrient yang dimaksud adalah nitrogen dan fosfor yang berasal dari larutan batuan volkanik di sekitarnya. Oleh sebab itu, sangat logis jika Selat Lembeh memiliki mahluk-mahluk dasar laut yang bentuk fisiknya tidak lazim, langka, unik dan mempesona serta beberapa spesies eksotis seperti beberapa spesies gurita mimic, kuda laut pygmi, siput laut tak bercangkang, mandarinfish, dan frogfish berambut yang merupakan mahluk-mahluk bawah air langka yang mempesona.  

 

Beberapa biota laut unik yang dapat dikenali pada saat penyelaman, diantaranya (Gambar 17 s/d Gambar   26):

 

< >Whip Coral (Koral Cambuk) 

 

Gambar 17. Whip corals atau koral cambuk dijumpai menyerupai taman laut di Selat Lembah,    berbentuk batang-batang tunggal yang seolah-olah muncul dari dasar laut. Keberadaan tumbuhan ini mencirikan karakter arus di dasar laut yang relatif kuat. Oleh sebab itu, keberadaan tumbuhan ini juga dikenal sebagai tumbuhan penciri kawasan berarus kuat atau sebagai peringatan kawasan yang harus dihindari oleh penyelam karena sewaktu-waktu arus akan berkecepatan tinggi terutama pada saat bulan perbana (spring tide). Foto: Mirayosi.

 

< >Soft Coral

 

Gambar 18. Kelompok karang lunak (soft coral)  jenis Koral Kubis (Montipora sp.), yang tidak memiliki tulang yang terkalsifikasi dan tubuhnya menempel pada koral sehingga resistan terhadap hempasan arus kuat. Gerakan coral ini selalu mengikuti gerak arusnya, dengan demikian koral ini juga sering digunakan sebagai indicator kuat dan arah arus. Koloni ini tumbuh dengan berbagai bentuk tetapi pada umumnya termasuk jenis kulat karang (Foto: Mirayosi).

 

c. Bintang Laut Bantal

 

Gambar 19. Bintang laut bantal yang ditemukan pada kedalaman sekitar 2 meter, merupakan salah satu mahkluk yang dapat berfungi ganda yaitu sebagai pelindung dan predator tanaman di bawahnya. Bintang laut jenis ini termasuk Asteroida oreasteridae dan speciesnya dinamakan Culcita novaeguineae. Bintang laut berbentuk seperti bantal ini, umumnya tebal dan berat, dengan warna yang sangat beragam. Apabila bintang laut ini terjebak pada air surut maka kandungan air yang terkumpul di dalam tubuhnya akan dikeluarkan sehingga tubuhnya menjadi pipih dengan tujuan agar tubuhnya dapat tetap terendam dalam air. Tubuh yang berat menyebabkan Culcita novaeguineae sangat lamban saat menghindari jebakan air surut (foto: S. Lubis).

 

d. Pipefish (Tangkur Buaya)

 

Gambar 20. Tangkur buaya (syngnathoides biaculoatus) atau pipefish adalah hewan sejenis ikan laut dari keluarga Syngnathoides ordo solonichtyes, disebut juga ikan gosok gigi atau ikan kili-kili buaya. Tangkur buaya yang ditemukan mulai kedalaman 2 meter ini memiliki bentuk badan bulat panjang mirip pipa atau ular dengan panjang sekitar 10 cm. Selain itu, Tangkur buaya juga disebut bajulan dan sekeluarga dengan tangkur kuda yang lazim hidup di perairan tropik. (Foto: Mirayosi).

 

e. Nudibranch (Siput Laut)

 

Gambar 21. Nudibranchia Phyllidia varicose adalah kelompok siput air laut dari ordo Opisthobranchia.  Hewan ini memiliki badan yang lunak dan bentuk dewasanya tidak memiliki cangkang atau operculum. Kelompok ini memang memiliki insang yang dapat dilihat dengan mata karena tidak tersembunyi di dalam tubuh. Dalam bahasa Indonesia, hewan ini dikenal dengan nama kelinci laut atau "sea rabbit".  Kepala Nudibranchia ini memiliki tentakel yang sangat sensitif terhadap sentuhan, rasa, dan warna (Foto: Mirayosi).

 

f. Sun Coral (Tubastrea aurea)

 

Gambar 22. Sun Coral jenis karang oranye dan kuning yang indah ini biasanya hidup di tempat yang gelap, tepati si Selat Lembeh koral ini ditemukan pada dasar laut dangkal pada kedalaman 2-3 meter. Biasanya karang ini berwarna oranye cerah, dasar berbatu dengan polip kuning berwarna-warni. Keistimewaan karang ini adalah mengeluarkan bintik-bintik cahaya pada tentakelnya. Jenis koral ini biasa ditemukan pada terumbu karang tropis terutama di wilayah Indo-Pasifik (Foto: Mirayosi).

 

< >Torch Coral (Caulastrea furcata

 

Gambar 23. Torch coral (Euphyllia torch coral) adalah spesies karang lunak yang indah karena memiliki warna cerah kecoklatan. Karang ini juga dikenal sebagai karang tongkat permen karena mirip dengan permen batang. Polipnya berwarna coklat dengan garis kuning dan bagian dalamnya berwarna hijau terang. Koral ini banyak ditemukan dalam bentuk kecil menyendiri ataupun hidup berkelompok pada arus yang relative tenang (Foto: Mirayosi).


h. Lili Laut

 

Gambar 24. Crinoidae (lili laut) adalah suatu kelas binatang laut yang berbentuk seperti bunga lili. Tumbuhan ini umumnya hidup di perairan dangkal dan bersih. Lili laut dewasa akan menempel di dasar laut atau terumbu karang lainnya dengan menancapkan tangkainya. Crinoidae yang tidak bertangkai sering disebut bintang bulu atau comatulids. Lili laut ini biasanya hidup berdampingan dengan Tubastrea (Tubastrea sp) berbagai jenis dan berbagai warna, tetapi umumnya berwarna mencolok seperti kuning, oranye, bahkan hitam. Karena warnanya yang mencolok kelompok spesies laut ini sangat menarik dan mempesona. Tubastrea berwarna hitam ini termasuk jenis Tubastrea micrantha yang ditemukan di Selat Lembeh pada kedalaman 3 meter (Foto: Mirayosi).

 

i. Cacing Pohon Natal

 

A

 

B

Gambar 25. Cacing pohon natal termasuk keluarga Serpulidae (S. giganteus). Jenis cacing ini selalu memperlihatkan struktur spiral chromatically yang berwarna merah, kuning atau biru dan memiliki tentakel yang disebut radioles sehingga mudah dikenali.  Sebenarnya, spiral warna-warni ini adalah alat pernapasan yang terdiri dari struktur tabung polychaetes . Cacing ini memiliki bagian tubular tersegmentasi yang dilapisi dengan chaeta sebagai pelengkap dalam membantu mobilitas cacing.  Cacing jenis ini lazimnya tidak bergerak keluar lubang tabungnya, karena tidak memiliki pelengkap gerak khusus untuk bergerak atau berenang. A: Tampak samping, B: Tampak atas (Foto: Mirayosi).

 

j. Teripang Raksasa

 

Gambar 26. Timun laut raksasa (teripang) yang ditemukan pada kedalaman 24 meter ini dikenal sebagai Giant Beche-de-mer or Amberfish (Thelenota anax). Para ahli menyebutnya sebagai “Extra long creature sea cucumber” atau Thelenota anax seperti yang banyak ditemukan di perairan tropis seperti di Ambon dan Manado.  Keberadaan jenis teripang reksasa ini merupakan paradox keunikan tersendiri karena secara umum binatang laut di Selat Lembeh ini lazimnya berbentuk mini atau pigmi.  Jenis teripang yang banyak ditemukan di perairan tropic ini lazimnya memiliki panjang antara 15-55 cm, namun yang ditemukan di Selat Lembeh ini termasuk yang langka ditemukan karena panjangnya mencapai hamper 100 cm (Foto: Mirayosi).

 

V.  PENUTUP

 

Pulau Lembeh yang berbentuk hampir setengah lingkaran diduga merupakan sisa dari tepi kaldera gunungapi purba bagian timur setelah letusan besar pada kala Tersier. Bagian tengah kaldera purba ini selanjutnya diterobos oleh gunungapi Dua Sudara dan gunungapi Tangkoko pada Plio-Pleistosen (sekitar 1,6 juta tahun yang lalu) sebagai bagian dari aktivitas volkanik dari busur volkanik muda. Kenyataan ini ditunjang oleh legenda masyarakat setempat yang menyebutkan bahwa Lembeh memiliki arti “yang tersisa atau yang tertinggal”, sehingga mungkin berkaitan erat dengan kedudukan pulau tersebut yang terpisah dari daratan utama Pulau Sulawesi.

 

Keunikan geologi di kawasan Selat Lembeh adalah perbedaan umur batuan volkaniknya. Batuan Pulau Lembeh berumur Tersier (sekitar 18 juta tahun yang lalu) jauh lebih tua dibandingkan dengan batuan volkanik tepi barat selat yang terdiri dari batuan muda berumur Kuarter.  Hasil pengamatan geologi permukaan yang dilakukan oleh Puslitbang Geologi Kelautan, Kementerian ESDM bulan April 2016, di daerah Bitung, secara umum memperlihatkan sebaran batuan volkanik dan volkaniklastik. Sebagian batuan ini ditutupi oleh endapan permukaan yang terdiri dari satuan tufa, tufa-breksi, satuan lava, satuan tefra, serta satuan aluvium sungai dan pantai. Hasil analisa makroskopik dari conto sedimen dasar selat di Selat Lembeh, memperlihatkan bahwa sedimen pasiran yang menutupi dasar selat ini berkarakter endapan volkanik lapilli dicirikan oleh buruknya sortasi ukuran butir dan dan roundness (kebundaran) butir yang tidak mencirikan endapan dari daratan atau pantai. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar endapan dasar selat merupakan campuran butiran lepas berbagai ukuran butir yang bercampur dengan butiran hasil rombakan batuan tufa dari pantai Pulau Lembeh dan vokanik muda dari daratan Sulawesi.

 

Kondisi geologi Selat Lembeh yang unik ini juga diikuti oleh bentuk geometrik selat yang khas. Bentuk geometri corong selat yang mengalirkan arus laut dari Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik bolak-balik, menyebabkan efek Eutrofikasi yang membawa nutrisi dari substrat yang kaya mineral. Arus kaya nutrisi ini merupakan bahan makanan yang berlimpah bagi berbagai makhluk yang hidup di dasar laut. Oleh sebab itu, sangat logis jika Selat Lembeh memiliki mahluk-mahluk dasar laut yang bentuk fisiknya tidak lazim, langka, unik dan mempesona serta beberapa spesies eksotis yang tidak terdapat di tempat lainnya. Keunikan inilah yang menempatkan Selat Lembeh sebagai spot “muck diving” terfavorit di Indonesia, dan bahkan para penyelam fotografi menyebutnya sebagai “Surga fotografi makro bawah laut”.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Dott, R. H., 1964. Wacke, graywacke and matrix - what approach to immature sandstone classification. Journal of Sedimentary Petrology 34 (3): 625-632.

Effendi, A.C. 1974. The Volcanic Deposite of North Sulawesi. Berita Direktorat Geologi; Geosurvey Newsletter, vol. 6 No. 8 p.3.

Koperberg, R. 1928. Bouwstoffen voor de geologie van de Residentie Menado and Atlas. Jaarb. Minjwezen in Ned. Indie. Verb. 1st Ged.

Kusumadinata, K. 1979. Data dasar Gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung, hal 640-646.

Mulyadi, A. 1999. Pertumbuhan dan Daya Serap Nutrient dari Mikroalgae Dunalilella tertiolecta yang Dipelihara pada Limbah Domestik. Jurnal Natur Indonesia 1I (1): 65-68.

Taslim A., Soedharma D., Dietriech G.B., Nikijuluw V.P., dan Unggul A., 2007. Indeks Keberlanjutan Ekologi-Teknologi Ekosistem Terumbu Karang Di Selat Lembeh Kota Bitung. Jurnal Kelautan Nasional, vol.2 no.3. 199 hal.

Verbeek, R.D.M., 1908. Mulukken Verslag. Jaarb Minjwezen in Ned. Indie, Wet Ged.

 

Leave a comment

Full HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.