Menggali Potensi Migas di Perairan Papua Barat - (Dr.P.Hadi Wijaya)

Penambahan sumber daya dan cadangan minyak dan gas bumi (migas) adalah salah satu prioritas utama kebijakan energi nasional (KEN). Status Indonesia sebagai net-importer minyak bumi, terus menurunnya produksi minyak bumi nasional, dan belum tercapainya target produksi harian, merupakan bagian pekerjaan rumah negara ini. Penelitian di wilayah offshore frontier yang mendukung usaha eksplorasi migas di Indonesia lebih berkembang. Perairan Papua Barat, khususnya wilayah Wokam Aru Utara dan Semai Misool Timur, termasuk salah satu wilayah eksplorasi yang berpotensi mengandung migas. Fakta yang memperkuat riset ini di Cekungan Bintuni dijumpai beberapa lapangan produksi migas skala raksasa seperti lapangan Wiriagar dan Vorwata.

Beberapa tahun terakhir Puslitbang Geologi Kelautan (P3GL) unit litbang Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaksanakan kegiatan pemetaan geologi dan geofisika kelautan di perairan sekitar Papua Barat menggunakan Kapal Riset (KR) Geomarin III. Meski wilayah itu diduga mempunyai potensi migas yang cukup besar, namun, data pendukungnya masih kurang sehingga tidak bisa dijadikan dasar untuk ditawarkan sebagai wilayah kerja migas.

Ada dua survei yang dilakukan P3GL berkaitan dengan identifikasi potensi migas. Survei pertama 2013 di perairan sebelah timur Pulau Misool dekat dengan Blok Semai Papua Barat seluas 15.530 kilometer persegi yang memanjang ke arah barat- barat laut sepanjang 151 kilometer dan melebar ke timur laut 121 kilometer. Sedangkan survei kedua 2014 di wilayah Wokam Aru Utara, perairan Papua Barat dengan luas area 39.340 kilometer persegi atau panjang 215 kilometer ke arah barat laut–tenggara dan lebar 180 kilometer arah timur laut– barat daya.

Untuk mempertajam hasil riset dari sisi konsep, kebijakan dan aspek teknis dilakukan focus group discussion (FGD) pada 10–11 September lalu, di Gedung Setjen ESDM Jakarta.

Dalam forum yang dibuka oleh Kepala P3GL Dr Ir Susilohadi, Ketua tim survei P. Hadi Wijaya memaparkan hasil riset migas Wokam–Semai Papua Barat. Para narasumber yang diundang antara lain Dardji Noeradi (ITB) yang membahas Sistem Petroleum dan Sedimentologi; Edi Sunardi (UNPAD) yang berbicara Integrasi Geologi dan Geofisika Migas, dan Asep K. Permadi (ITB) yang memaparkan status produksi migas nasional dan tantangannya ke depan.

Adapun narasumber dari lembaga pemerintah, yakni Ditjen Migas ESDM Yunan Muzaffar; Eko Budi Lelono dari PPPTMGB “Lemigas”; Rakhmat Fachrudin dari PSG, Badan Geologi; Renaldi Adam, Pusdatin ESDM, dan Profesor Riset Hardi Prasetyo. Sejarah eksplorasi migas di Semai–Wokam, mengalami proses yang panjang. Diawali oleh Philips Petroleum dalam periode 1973- 1978 yang dilanjutkan oleh Amura (Kamura Block) pada 1980-1988. Berikutnya Diamond Shamrock (Aru Block) melakukan akuisisi 2D seismik pada 1985-1995 yang diambil alih oleh Maxus. Upaya terakhir KNOC (Wokam Block) yang melakukan akuisisi 2D dan 3D seismik dalam periode 1997- 2009.

Hasil survei dengan KR Geomarin III di Semai-Misool Timur tahun 2013 antara lain panjang lintasan batimetri dan SBP adalah 1.580,7 kilometer, lintasan seismik multi-kanal dan data magnetik 1.002,6 kilometer dan sampling sedimen dengan gravity coring sejumlah delapan lokasi.

Adapun survei di perairan Wokam 2014 diperoleh di lintasan seismik multi-channel 1.182 kilometer, magnetik 1.220 kilometer dan pemeruman batimetri/SBP 1.510 km. Pengambilan sampel sedimen dasar laut sebanyak sembilan titik lokasi.

Studi awal potensi migas di perairan Wokam berdasarkan hasil survei Geomarin III dan hasil dari interpretasi awal seismik stacking single-channel, dijumpai enam lokasi potensi jebakan hidrokarbon dari umur Jura–Paleogen, yaitu masing-masing tiga lokasi di penampang L-03 dan L-05. Hasil dari analisis anomali magnet total, terlihat area dengan nilai suseptibilitas magnet rendah di tiga area yaitu bagian timur lintasan L-01, di bagian tengah L-05 (utara Pulau Wokam) dan di bagian timur L-05. Ini mengindikasikan wilayah rendahan basement (basement low) yang juga mencerminkan kitchen area.

 Di Perairan Semai Misool Timur dari hasil interpretasi seismik menunjukkan pola struktur antiklin yang dijumpai nampak bertipe asimetri dengan sayap landai mengarah ke timur laut. Kombinasi sistem sesar dan antiklin tersebut menghasilkan jebakan hidrokarbon berumur Jura–Kapur yang kemungkinan dijumpai pada empat lokasi di bagian tengah–utara lokasi penelitian.

Berdasarkan dari data eksplorasi sebelumnya, wilayah studi masih belum menemukan lapangan migas ekonomis, terkendala oleh permasalahan sistem petroleum khususnya kitchen problem dan reservoir uncertainty.

Hasil FGD merekomendasikan, pentingnya forum integrasi antarunit instansi pemerintah, serta perguruan tinggi dan pihak perusahaan kontraktor migas (KKKS) semakin diintensifkan. Sehingga hasil riset, kajian dan studi migas semakin optimal untuk menjadi fondasi teknis peningkatan status cadangan dan produksi migas nasional. Semoga. ( Dr.P.Hadi Wijaya )

Leave a comment

Full HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.