POTENSI MINERALISASI HIDROTHERMAL PROSPEK CIBOBOS, PANGGARANGAN, LEBAK, PROPINSI BANTEN.

Penulis Artikel Puslitbang Geologi Kelautan :  Hersenanto CW, Udaya K, dan Juniar H.

Lokasi penyelidikan adalah kawasan pantai (Selatan Lebak) Kecamatan Panggarangan, desa Cibobos mencakup wilayah pantai hingga ke batas 4 mil laut yang diukur pada saat surut laut terendah (Gambar 1). Secara geografis 6º 58’ 40”- 6º 53’ 30” LS  dan  106º 05’  -  106º  08’  20” BT, berdasarkan peta geologi  regional daerah ini  mempunyai struktur geologi komplek berupa patahan,  lipatan serta beberapa intrusi batuan beku yang mendukung keberadaan mineral logam di daerah ini.

PENDAHULUAN
Lokasi penyelidikan adalah kawasan pantai (Selatan Lebak) Kecamatan Panggarangan, desa Cibobos mencakup wilayah pantai hingga ke batas 4 mil laut yang diukur pada saat surut laut terendah. Secara geografis 6º 58’ 40”- 6º 53’ 30” LS  dan  106º 05’  -  106º  08’  20” BT, berdasarkan peta geologi  regional daerah ini  mempunyai struktur geologi komplek berupa patahan,  lipatan serta beberapa intrusi batuan beku yang mendukung keberadaan mineral logam di daerah ini.
Daerah penelitian merupakan bagian dari Busur Magmatik Sunda-Banda yang berumur Neogen yang membentang sepanjang Pulau Jawa hingga ke bagian timur Pulau Damar.  Busur tersusun oleh rangkaian gunungapi aktif  pada batuan vulkanik dan volkanikklastik yang lebih tua yang berinterkalasi dengan batuan sediment yang berumur Paleogen  dan Neogen dan di intrusi oleh batuan beku plutonik.
Batuan dasar daerah ini berupa Melange yang berumur Kapur Akhir atau Paleogen  terbentuk oleh dua perioda aktifitas magmatik yaitu  Periode Eosen Akhir-Miosen Awal dan Periode Miosen Akhir-Pliosen yang berhubungan dengan proses penunjaman Lempeng Samodera India ke Bawah Busur Sunda.
Batuan intrusi di daerah telitian sangat terkait dengan proses mineralisasi adapun batuan terobosan tersebut antara lain.
GRANODIORIT CIHARA  (Teog),  Granodiorit, granodiorit porfir, granit, dasit porfir, gabro dan aplit.  Umur Oligosen Awal-Akhir; DASIT (Tmda) Dasit, liparit, bostonit porfir.  Umur Miosen Tengah-Akhir; ANDESIT (Tma) : Andesit, andesit hornblenda.  Umur Miosen Akhir; BASAL OLIVIN (Qb).:  Basal, basal olivin, dan andesit piroksen. Kuarter
Struktur geologi yang utama di daerah telitian adalah sesar, berupa sesar  naik, dengan arah bidang sesar relatif  barat-timur, barat laut-tenggara dan sesar jurus mendatar dengan arah bidang relatif utara-selatan dan sesar normal memotong batuan berumur tua (F.BAYAH ) Paleosen-Eosen hingga batuan yang berumur muda FORMASI CIMANCEURI (liosen).
Metode dan Analisa pada kegiatan pengambilan contoh diarahkan pada sedimen permukaanya dasar laut  dengan menggunakan alat percontoh comot (grab sampler. Kegiatan ini diperlukan untuk mengetahui jenis dan pola sebaran sedimen permukaan dasar laut dimana mineral terakumulasi, sehingga memudahkan untuk proses kegiatan selanjutnya. Metode geofisika berupa pemeruman (batimetri) membuat kontur kedalaman dasar laut dan seismik dangkal (stratabok) untuk mengetahui ketebalan batuan dasar laut.

Pengambilan contoh sedimen pantai berupa pasir pantai, batuan insitu (out crop) batuan hanyutan (float) ini dilakukan dengan palu geologi, loupe, dan bor tangan yang diambil umumnya dengan interval grid 250 meter atau tergantung singkapan yang ada proses mineralisasi. Untuk sedimen lepas (pasir, pasir lanauan) dilakukan pendulangan untuk mengetahui kandungan mineral bijih/mineral berat seperti emas, perak, pirit, kalkopirit, magnetik, hematit, rutil dengan menggunakan loupe dengan pembesaran 20X. Untuk batuan insitu (batuan beku, batupasir, batuan meta (terubah) dilakukan penggerusan sampai halus baru didulang.

Untuk daerah yang prospek kita lakukan pemboran berdasarkan analisa contoh endapan dasar laut maupun pantai, di daerah Cibobos ini dilakukan pemboran dengan kedalaman 50 meter dengan tujuan untuk mengetahui jenis batuan ,tebal batuan yang termineralisasi,  bentuk cebakan, jenis alterasi.
Contoh sedimen hasil dari kegiatan di atas kemudian dideskripsi secara megaskopis (memakai lope), mikroskopis untuk analisa petrografi, mineral bijih. Analisa besar butir  dilakukan dengan cara pengayakan dalam suatu urutan mesh dengan bukaan yang berbeda (mulai dari ukuran –2 phi, yang terbesar hingga 4 phi merupakan ukuran yang terkecil dengan interval mesh antar fraksi adalah 0,5 phi), selain itu dilakukan juga dengan metoda pipet untuk sedimen yang berukuran halus yang mengacu kepada kaidah hukum Stokes. Dari hasil yang diperoleh kemudian dimasukkan ke dalam suatu program untuk mengetahui klasifikasi penamaan terhadap tekstur sedimen berdasarkan hukum Folk (1980).
Pengamatan secara petrografis dilakukan terhadap batuan keras dengan  maksud untuk mengetahui jenis batuan berdeasarkan prosentase komposisi dari macam-macam  mineral dari sayatan tipis di bawah mikroskop, teramati juga tekstur, bentuk kristal, alterasi (ubahan) dan prosentasi mineral bijih yang terkandung.
Analisa geokimia dilakukan dengan metoda PIMA (portable infra Red) untuk mengetahui jenis batuan terubah (teralterasi) yang berukuran sangat halus. Atomic Absorption Spectrometric (AAS); dan XRF  untuk mengindentifikasi secara khusus unsur logam mulia dan logam dasar seperti Au, Ag,  Cu, Zn, Pb,Fe, Ca,Mg dll termasuk konsentrasinya, analisa unsur utama (major element) guna mengetahui komposisi utama pembentuk batuan, selain juga diperlukan analisa titrasi untuk mengetahui beberapa unsur (senyawa) tertentu.

HASIL
Beberapa parameter yang dapat diungkap kaitannya dengan keterdapatan mineral emas berupa endapan emas primer (Prospek Cibobos) adalah sebagai berikut:
•Berdasarkan analisa megaskospis diatas ditemukan adanya batuan intrusi diorit, basalt dan andesit, secara umum batuan ini telah terubah (alterasi) lemah-sedang, dengan mineral ubahan berupa kalsit, clorit, zeolit, argilik, membentuk jaringan urat halus (veinlet).
•Dari pelaksanaan dulang secara random rata-rata pasir pantai mengandung butiran emas berkisar 1-12 butir halus maupun kasar dengan bentuk butiran, llempengan dan kawat.
•Dari analisa petrografi beberapa batuan di lokasi OC1, OC,3 ada yang terubah kuat termetamorf menjadi batuan hornfels dengan kandungan mineral bijih 1-3%.
•Berdasarkan hasil analisa oksida utama dari contoh batuan outcrop dan dari data bor BH.2 di kedalaman 34-35m, 42-43 m, mengandung kadar K2O+Na2O> 5,31 termasuk dengan kadar alkali tinggi, TiO2 rendah < 1,3%. Berdasarkan diagram Lebas (1985) secara umum  berupa batuan  dasitik.
•Dari analisa PIMA (portable Infra Red) Mineral ubahan berupa gipsum, kalsit, arkerit, epidot, monmorrilonit dan hallocit.
•Lokasi Bor 2 (BH2) didaerah Cibobos, Kec. Panggarangan kedalaman pemboran 50 meter, hasil berupa coring , di dapatkan batuan beku andesit, basal, dasit, diorit sebagian sudah terubah   lemah-sedang, mineral sekunder calsit (veinlet), klorit (stockwork) serisit, zeolit, masiv sulfida ( pirit, kalkopirit, azurit).
•Hasil analisa unsur dan  kadar mineral secara umum  Prospek Cibobos mengandung kadar emas  0,3 -1,3 ppm,  Ag 5- 11,2 ppm), Cu (36-56 ppm), Pb 0,04-0,28 %,  Ca. 1-4,8 ppm. Fe.2-46,6%, Al. 0,6-5,4%
•Kadar emas tinggi umumnya pada batuan terubah sedang-kuat ada tekstur berupa kalkopirit yang menyebar merata, setempat pirit berukuran halus, urat kalsit, urat kuarsa, setempat mangan oksida, sedikit mineral azurit dan malakaite.
Berdasarkan beberapa parameter di atas keterdapatan mineral emas di sedimen dasar diperkirakan berupa endapan emas primer maupun sekunder (Prospek Cibobos) dapat dijelaskan sebagai beruikut:
•Dari pelaksanaan dulang secara random rata-rata pasir pantai mengandung butiran emas berkisar 0-3 butir halus maupun kasar dengan bentuk butiran.
•Berdasarkan hasil analisa oksida utama dari contoh batuan mengandung kadar K2O+Na2O 5,31 termasuk dengan kadar alkali rendah-tinggi, TiO2 rendah-tinggi 1,1- 1,9%. Kadar SiO2 67-72%,  Fe2O3  8-11.28%,  CaO 1,43-2,60%
•Dari analisa PIMA (portable Infra Red) Mineral ubahan berupa illit, arkerit, epidot, monmorrilonit dan hallocit.
•Hasil analisa unsur dan  kadar mineral secara umum sedimen dasar laut  Prospek Cibobos mengandung kadar emas  0,15 -0,4 ppm,  Ag 2- 7,8 ppm (pantai), Cu (7-12 ppm), Al 1-4 %,  Ca. 0,1-0,5 ppm, Fe 2-6,2%.
•Kadar emas tinggi umumnya pada batuan pasir halus dengan kadar Fe>5%  sortasi baik, kadar karbonat <1%.
•Dari data batimetri pada lintasan L-16, jam 08.05 – 08.50 nampak perbukitan pada kedalaman 12-21 meter, ditafsirkan berupa  intrusi/ batupasir kompak, disekitar lokasi menunjukan kadar mineral Au 0,4-0,6 ppm,  Cu 20-73 ppm, Ca. 1-2,5%, Fe.3,5%, Th. 20-40 ppm.

KESIMPULAN
•Daerah Pesisir pantai Cibobos tersingkap batuan insitu; andesit, basal, granodiorit, dasit dan batupasir. Batuan hanyutan (float) andesit, diorit, basalt, batupasir, batugamping dan sedimen lepas pasir.
•Sedimen dasar laut daerah telitian terdiri dari pasir, pasir halus , lempung pasiran dan pasir lempungan ada indikasi mineral logam. 
•Dari proses penyelidikan daerah Cibobos, Panggarangan, Lebak, Banten  ini berpotensi adanya cebakan mineral logam ditunjukan dari kenampakan lapangan dan analisa laboratorium, diakibatkan adanya proses hidrothermal.
-Proses hidrotermal ini karena adanya intrusi diorit, dasit, basalt sebagian telah terubah lemah-kuat dari ppeta dapat diketahui luas sebaran ± 9,7 km² (peta skala 1 : 50.000).
-Dengan hadirnya mineral clorit, kalsit, azurit, gipsum, zeolit, montmorilonit yang mengindikasikan daerah ini terjadi proses mineralisasi hidrothermal dengan kandungan mineral logam Au 0.4-1,1 ppm, Ag. 2-4,8 ppm,  Cu.20-56 ppm, Al. 4–5,2%, Fe. 2,30-5,78%. Hasil pemboran menunjukan kadar yang hampir seragam antara 0,5 -1,1 ppm.

DAFTAR PUSTAKA
•Hamilton, W., 1979. Tectonics of The Indonesian Region. Pusat penelitian dan Pengembangan Geologi. Publikasi Khusus.
•Prasetyo, Hardi, 1989. Marine Geology and Tectonic Development of The Banda Sea Region Eastern Indonesia. Pusat penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan. Publikasi khusus.
•Sujatmiko dan S.Santoso. 1992, Peta Geologi Lembar Leuwidamar, Jawa, . . Pusat penelitian dan Pengembangan Geologi. Publikasi Khusus.

 

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Who's online

There are currently 0 users and 2 guests online.

Tugas

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan mempunyai tugas melaksanakan penelitian, pengembangan, perekayasaan, pengkajian, survei dan pemetaan bidang geologi kelautan.

RSS Feed

Syndicate content

Berdasarkan Peraturan Menteri ESDM No. 18 Tahun 2010, tanggal 22 November 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, PPPGL merupakan salah satu unit yang berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral.  Struktur organisasi PPPGL terdiri dari :

  1. Bagian Tata Usaha;
  2. Bidang Program;
  3. Bidang Penyelenggaraan dan Sarana Penelitian dan Pengembangan;
  4. Bidang Afiliasi dan Informasi; dan
  5. Kelompok Jabatan Fungsional.

Kelompok Pelaksana Penelitian dan Pengembangan ( KP3 ) terdiri dari :

  • KP3  Pemetaan Geologi Kelautan
  • KP3 Sumber Daya Mineral Kelautan
  • KP3 Sumber Daya Energi Kelautan
  • KP3 Geologi Lingkungan dan Kewilayahan Pantai dan Laut.

Kalender Kegiatan

  • No upcoming events available