P3GL dan Balitbang Propinsi Riau, Poltek Bengkalis melakukan Diskusi Kajian Teknis Pemanfaatan Gas Biogenik

P3GL dan Balitbang Propinsi Riau, Poltek Bengkalis melakukan Diskusi Kajian Teknis Pemanfaatan Gas Biogenik

Acara pertemuan di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Propinsi Riau pada tanggal 13 Juni 2016, perwakilan dari Puslitbang Geologi Kelautan adalah Purnomo Rahardjo dan Hendro Dwi Bayu A. Kunjungan dari P3GL ini  sebagai permintaan dari pihak Balitbangda Prop. Riau untuk sharing informasi/ diskusi kajian aplikasi pemanfaatan teknologi polimer pada proses pengelolaan dan pemanfaatan potensi gas biogenik di Pulau Topang – Riau, kunjungan ini di terima oleh Bapak Ir. Ibrahim Suriawan selaku kepala seksi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Pelaksanaan acara di ruang rapat Kepala Badan Litbang Propinsi Riau.

Hasil litbang P3GL yang telah dilakukan untuk di wilayah Pulau Topang dengan kepala tim  Bapak Purnomo Rahardjo dengan judul litbang yaitu : Penelitian indikasi keterdapatan gas biogenic di Pulau Topang, Propinsi Riau.

Pada umumnya, gas biogenik yang ditemukan pada sumur-sumur penduduk di kawasan pesisir ataupun dari lubang bor dangkal memperliharkan bahwa tekanan gas ini relatif rendah (2-3 Kg/m2) dan merupakan aliran rembesan gas melalui pori-pori atau rekahan tanah.

Gas biogenik yang merembes ke permukaan ini adalah gas yang murni berasal dari alam sehingga secara langsung tidak berbahaya bagi mahluk hidup, namun dalam kandungan yang pekat (dalam ruang tertutup) akan mudah terbakar walaupun tidak bersifat eksplosif. Kemunculan gas biogenik pada sawah, rawa ataupun tambak tidak secara langsung mempengaruhi kualitas air, karena gas methan tidak bereaksi dengan air. Di P Topang banyak dijumpai rembesan gas biogenik berupa gelembung-gelembung yang keluar dari dasar laut, namun tidak memberikan dampak yang berarti bagi kehidupan biota bawah laut.  

 

20160613_093028

Photo 1. Pembukaan acara diskusi mengenai gas biogenic di Pulau Topang

 

Gas biogenik adalah gas methan (CH4) yang memang sudah sangat akrab dengan kehidupan manusia karena sangat umum ditemukan di mana saja di permukaan bumi ini. Gas ini dapat terbentuk dari tiga proses utama yaitu (Schoell, 1988):

  1. Fermentasi bakteri anaerobik pada sampah, kotoran ternak atau sejenisnya. Gas yang dihasilkan proses ini disebut biogas methan atau gas biomasa.
  2. Fermentasi bakteri asetat pada lapisan sedimen yang kaya zat organik (gas charged sediment) secara kimiawi: CH3COOH       CH4 + CO2.
  3. Proses reduksi CO2 oleh bakteri dari batuan volkanik atau magmatik alami secara kimiawi: CO2 + 2 H2O        CH4.   

 

Selain itu, gas methan juga dapat berasal dari proses spontan pada lapisan batubara yang disebut coal bed methane (CBM) yang dikenal sebagai methan B, atau rembesan dari lapisan hidrokarbon pada perangkap migas yang over mature yang disebut gas methan petrogenik/termogenik. Untuk membedakan origin atau  asal dari gas methan tersebut dapat dikenali dari analisa paremeter methan  δ 13C atau δD (Claypool and Kaplan, 1974).

Gas methan merupakan gas hidrokarbon yang mudah terbakar, memiliki rantai carbon terpendek (C1) sehingga merupakan gas yang paling ringan, yaitu sekitar 0,7 lebih ringan dari udara (Rice, 1993), sehingga jika tersebar diudara akan langsung menguap naik ke atmosfir. Namun demikian, jika digunakan sebagai sumber energi termasuk jenis bahan bakar yang ramah lingkungan, karena hasil pembakarannya mengeluarkan carbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang lebih kecil dibandingkan jenis bahan bakar hidrokarbon lainnya.

Kemunculan gas biogenik ke permukaan sering dijumpai di rawa atau sawah, sehingga disebut gas sawah atau gas rawa. Gas ini umumnya tidak berbau, mudah terbakar, bertekanan rendah, dan muncul sebagai rembesan gas pada daerah yang cukup luas. Akumulasi gas ini di bawah permukaan terperangkap pada kantong-kantong atau poket gas sehingga akumulasinya tidak melampar luas seperti pada cekungan gas alam lainnya.

20160613_095645

Photo 2. Diskusi Pengelolaan dan Pemanfaatan gas biogenic di Pulau Topang

Diskusi :

  • Pemanfaatan gasi biogenic di Pulau Topang rencana launching pada akhir tahun, yang merupakan sebagai langkah bahwa Badan Litbang Prop. Riau sangan konsen dengan green energy dengan membantu masyarakat pesisir menggunakan gas bigenik yang terdapat di sekitar.
  • Pemanfaatan gasi biogenic di Pulau Topang ini merupakan kolaborasi kerjasama antara Balitbang Riau, PPPGL, Poltek Bengkalis, serta Lemigas.
  • Di dasar laut di sekitar pesisir Pulau Topang terindikasi gas biogenic, yang terbentuk dari endapan sedimen kuarter.
  • Gas di periaran Pulau Topang juga muncul dengan indikasi adanya buble-buble yang tampak di air.
  • Gas tersebut mengandung uap air, maka uap air tersebut harus di buang agar tidak menghalangi aliran  gas di dalam pipa saluran.
  • Perlunya upaya sosialisasi kepada masyarakat sekitar bahwa gas biogenic itu tidak berbahaya, yang mana gas ini terbentuk dari gambut yang terbusukkan oleh bakteri.
  • Menerjemahkan langkah kongkrit untuk pemasangan pipa gas biogenic di Pulau Topang dengan cara :
  • Di manfaatkan sumur gas yang ada tinggal di cuci terlebih dahulu
  • Di persiapkan genset , kompor agar langsung digunakan oleh masyarakat
  • Pemasangan instalasi pemanfaatan gas ke rumah-rumah penduduk sekitar.
  • Pihak Politeknik di harapkan mendesign teknologi bak penampungan gas yang sudah mampu menghilangkan uap air, oksigen dan partikel lain, agar pada saat di berikan ke masyarakat sudah aman dan dapat langsung di gunakan/dimanfaatkan.
  • Pulau Topang selain potensi gas yang berada di darat juga terdapat potensi gas yang berada di laut, sehingga jika titik pengeboran di darat usdah habis gasnya, maka bisa di manfaatkan potensi gas yang berada di laut, juga bila datu titik pemboran di darat sudah habis maka bisa menyebar di tempat lain (darat), yang mana hal ini bisa di jadikan pilot plan pemanfaatan gas biogenic ke depan di Pulau Topang.
  • Utilisasi sumber daya energi gas biogenik atau gas rawa yang terdapat di perairan dangkal dan kawasan pesisir, merupakan salah satu sumber energi baru alternatif masyarakat pesisir. Selain itu, gas biogenik termasuk salah satu sumber energi alternatif yang sangat murah, bersih lingkungan dan mudah dikelola sehingga cocok untuk dikembangkan bagi masyarakat di kawasan terpencil. 
  • Hal lain yang akan muncul sebagai multi efek dari pemanfaatan gas biogenik ini adalah perubahan pandangan masyarakat bahwa gas biogenik yang asalnya dianggap sebagai gas beracun dan berbahaya, akan berubah menjadi berkah jika dapat dikelola dan dimanfaatkan sebagai sumber energi baru yang murah dan ramah lingkungan, sehingga lambat laun akan menghilangkan ketergantungan energi BBM bagi masyarakat di kawasan pesisir yang terpencil.

Pertemuan ini adalah upaya pemerintah untuk mewujudkan pengelolaan dan pemanfaatan gas biogenic untuk masyarakat sekitar di Pulau Topang – Propinsi Riau, sebagai wujud dari program green energy, yang saat ini banyak di kembangkan.

(Hendro Dwi Bayu A – P3GL)

Leave a comment

Full HTML

  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

Plain text

  • No HTML tags allowed.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.